regentrenaldo
VisitingCardBlogger

Saya Segera Kembali

Mohon maaf Blog Regent Renaldo sedang dalam perawatan. Untuk program penjualan sederhana dengan Microsoft Excel silakan kunjungi: www.NotaRG.com > The Blog of Property: MandiriSemesta.com

Perginya Sang Pendiri Bisnis Salim

Berita tanggal : 11/06/2012
Liem Sioe Liong 

Kabar duka menyelimuti kerajaan bisnis Salim. Sang pendiri yang pernah menjadi salah satu orang terkaya dunia, Sudono Salim, meninggal dunia di Singapura sekitar pukul 15.08 waktu setempat.

Terlahir dengan nama Liem Sioe Liong, Salim meninggal dunia dalam usia 95 tahun setelah mengalami sakit akibat usia yang tak lagi muda.

"Saya sudah cek, betul  beliau meninggal di Singapura," kata Sofjan  ketika dihubungi VIVAnews, Minggu, 10 Juni 2012.

Menurut Sofjan, kabar wafatnya pria yang akrab disapa Om Liem ini diperoleh dari pesan singkat rekannya di Singapura. Namun, belum diketahui di mana jenazah Om Liem akan dikuburkan.

Sofjan menuturkan, kondisi Om Liem sudah mengalami sakit-sakitan sejak beberapa tahun terakhir. Hal itu tak terlepas dari usianya yang sudah tua.

Kondisi terakhir Om Liem diketahui Sofjan karena dirinya pernah beberapa kali mengunjungi pemilik sejumlah perusahaan itu di Singapura. Saking sakitnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini bahkan tak berani untuk mengganggunya.

"Memang dia sakit, bahkan sekarang dia sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi," kata Sofjan. "Dia sudah sakit betul, sudah setahun yang lalu."

Kabar wafatnya Sudono Salim juga dibenarkan oleh menantunya Franciscus Welirang. Walau belum bisa memberikan keterangan lebih detil, bos Indofood ini mengatakan, Om Liem wafat karena sakit tua.

"Beliau sakit tua,  cuma saya belum bisa memberi penjelasan lebih lanjut. Besok saya ke Singapura," kata Franciscus.

Direktur Eksekutif Grup Salim, Benny Setiawan Santoso, menambahkan, jenazah Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim, akan disemayamkan di Mount Vernon Funeral Parlours, 121 Aljunied Road, Singapura.

"Rencana penguburan akan diberitahukan kemudian," kata Benny melalui pesan singkatnya kepada VIVAnews.
 
Siapa Om Liem?


Sosok Sudono Salim memang tak terlepas dari dunia bisnis di tanah air. Namun kesuksesan pria yang meninggalkan tiga putra dan satu cucu dalam membangun kerajaan bisnis Salim, tak diraih dengan mudah.

Lahir di Fuqing, Fujian, China, 10 September 1915, Liem Sioe Liong merupakan anak kedua dari seorang petani. Kekacauan politik di China pada 1938, membulatkan tekad Om Liem untuk meninggalkan tanah kelahirannya tersebut.

Tekadnya bulat, dia mengarungi Laut China untuk menyusul sang kakak, Liem Sioe Hie, yang sudah terlebih dahulu menetap di Indonesia. Menggunakan perahu kecil, dia berhasil mendarat di Medan dan berharap kakaknya akan menjemputnya.

Sayangnya harapan itu tak sepenuhnya berjalan mulus. Sampai empat hari dia menunggu karena pihak imigrasi tak meloloskan Liem ke luar dari wilayah pelabuhan. Selama itulah Liem kecil tak makan.

Persis pada hari keempat, kakaknya menjemput. Liem kecil dibawa ke Kudus. Di situlah Liem dikenalkan dengan usaha rumahan, membuat krupuk dan tahu. Keuletan Liem membuat usahanya maju.    

Namun, pada 1940-an, Jepang menjajah Indonesia dan usahanya bangkrut. Tak cuma itu, dia juga mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpangi masuk jurang. Seluruh penumpang meninggal, kecuali Liem.  Luka parah membuat Liem dua hari tak sadar, namun akhirnya membaik.

Kemudian Liem pindah ke Jakarta. Di sinilah Om Liem mulai kembali membangun kerajaan bisnisnya. Sudah menjadi rahasia umum, Sudono Salim memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Mantan Presiden RI, Soeharto.

Dikutip dari laman nytimes.com, dari sebuah artikel berjudul "Year of Living Dangerously For a Tycoon in Indonesia", terbitan Mei 1999, perkenalan keduanya berlangsung ketika Om Liem bertemu dengan prajurit muda berpangkat Letnan Kolonel bernama Soeharto. Kala itu, Om Liem mengantongi kontrak penyaluran kebutuhan militer yang berada di bawah komando perwira muda tersebut.

Selama periode perkenalan ini pun, Liem Sioe Liong mengadopsi nama Indonesia menjadi Sudono Salim. 

Kekayaan Om Liem membesar seiring berkuasanya Suharto. Ketika pertama kali menjabat presiden, Om Liem telah siap membantu pemimpin baru Indonesia ini untuk membangun perekonomian negara.

Bahkan muncul anggapan, ketika Soeharto ingin mengembangkan sebuah industri baru, Om Liem siap untuk membangun pabrik baru.

Semasa pemerintahan Orde Baru, usahanya berkembang pesat. Pada 1969, Om Liem, panggilan akrabnya, berkongsi dengan pengusaha Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad membentuk CV Waringin Kentjana. Om Liem sebagai Chairman dan Sudwikatmono sebagai CEO.

Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan kopi, lada, karet, dan kopra. Perusahaan ini juga melakukan impor beras dan gula.

"The Gang of Four" ini kemudian mendirikan pabrik tepung PT Bogasari pada 1970. Berbekal dari pinjaman pemerintah, Bogasari berkembang.

Kemudian pada 1975, kelompok ini mendirikan pabrik semen PT Indocement Tunggal Prakarsa. Pabrik ini berkembang pesat dan sempat memonopoli pasar semen di Indonesia.

Belakangan Ciputra gabung. Mereka kemudian mendirikan perusahaan real estate PT Metropolitan Development yang membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Bumi Serpong Damai.

Om Liem juga mendirikan bisnis otomotif melalui bendera PT Indomobil dan perbankan melalui Bank Central Asia (BCA). Kini BCA menjadi salah satu perbankan swasta terbesar yang memiliki ribuan cabang di Indonesia.

Lewat berbagai lini bisnisnya ini, mengantarkan Om Liem menjadi orang terkaya di Indonesia dan Asia. Bahkan pemilik Indofood ini pernah masuk daftar 100 orang terkaya  dunia.

Sayangnya, ketika krisis moneter dan Soeharto lengser, usahanya ikut terpuruk. Pada saat krisis moneter 1998, bisnis Grup Salim jatuh. Saat itu, Om Liem harus menyerahkan sekitar 108 perusahaan kepada pemerintah guna membayar utang Rp52,7 triliun.

Tak hanya bisnisnya yang jatuh, Om Liem pun harus menghadapi keberingasan massa pada 1998 ketika rumahnya di Jalan Gunung Sahari, Jakarta, dijarah massa. Diceritakan anaknya, Anthony Salim, massa merangsek ke dalam rumahnya dan menyeret sebuah foto besar sang Ayah. Penuh emosi massa yang tengah emosi itu mencoret lukisan tersebut dan menuliskan tulisan Antek Soeharto.

Kondisi mencekam yang meliputi Jakarta pada 1998 itu pula yang membuat Sudono Salim memutuskan untuk meninggalkan Jakarta menggunakan pesawat. Tujuannya, negara tetangga, Singapura.

"Ketika rumah Anda telah dibakar, incaran selanjutnya dari massa yang sedang mengamuk adalah penghuninya," kata Anthony seperti dikutip nytimes. "Anda pastinya tak mau tertangkap dalam situasi seperti itu."

Kini, 14 tahun tragedi tersebut telah berlalu. di tangan anaknya, Anthony Salim, dan menantunya, Franciscus Welirang, bisnis Salim kembali menggeliat.

Terlepas dari hubungannya dengan Soeharto, Sofjan Wanandi melihat sosok Sudono Salim sebagai pribadi yang memiliki nilai sosial cukup tinggi. Lewat bisnis yang dirintisnya, tak jarang Om Liem menyumbangkan uangnya untuk membantu masyarakat miskin. "Apapun kita minta bantuan untuk rakyat miskin, dia selalu turun tangan," kata dia.

Sofjan mengisahkan, usai krisis 1998, Lim Sioe Liong telah mengundurkan diri dari urusan bisnis yang telah dibangunnya. Pengunduran diri itu ditandai dengan pengalihan seluruh urusan bisnis kepada anak-anaknya.

"Dia ingin mencoba hidup baik di usia tua. Dia mau menikmati hidup," ungkap Sofjan.

sumber : http://fokus.vivanews.com/news/read/323265-perginya-sang-pendiri-bisnis-salim
Program Penjualan Sederhana  :
> Download Program Penjualan Sederhana

Tidak ada komentar: