regentrenaldo
VisitingCardBlogger

Saya Segera Kembali

Mohon maaf Blog Regent Renaldo sedang dalam perawatan. Untuk program penjualan sederhana dengan Microsoft Excel silakan kunjungi: www.NotaRG.com > The Blog of Property: MandiriSemesta.com

Mereka Dicaci tapi Dicari

Berita tanggal : 26/03/2012

JAKARTA - Bagi Anda pengguna setia Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jakarta, bukan hal asing lagi jika bertemu dengan deretan pedagang kaki lima (PKL) yang membuka 'lapak'. Tidak hanya di bawah, kadangkala justru sepanjang jalur. Tak heran, sebagian pejalan kaki justru harus mengalah dan menerima 'lintasan' sempit yang tersisa, satu lajur!
Banyak kejadian yang membuat pejalan kaki harus saling menunggu, terutama jika ada transaksi. Satu lajur yang tersisa membuat orang harus sabar mengantri untuk menyeberang melalui JPO. Pantauan Tribun Jakarta di sepanjang lajur jalan protokol ibukota, JPO di area Jalan Sudirman, MH Thamrin dan Gajah Mada, menjadi ajang empuk.
Beberapa tempat yang cukup mencolok misalnya JPO Bendungan Hilir, JPO Karet, JPO Pintu Senayan, JPO Sarinah, JPO Bunderan Hotel Indonesia sampai JPO depan Plaza Gajah Mada. Kondisi ini belum yang ada di sekitar pinggiran Jakarta.
Tak jarang, keberadaan para pedagang di area JPO menjadi masalah tersendiri. Sayang, di sisi lain, mereka juga seperti diperlukan. Istilah 'mereka dicaci dan dicari' muncul, terutama jika membandingkan harga yang dibandrol mereka dibanding yang ada di toko atau kompleks penjualan resmi.
Meskipun banyak yang merasa terganggu dengan kehadiran mereka tidak sedikit juga yang terbantu dengan kehadiran PKL di JPO. Wawan misalnya, ia mengaku sering membeli barang di tempat yang seharusnya murni hanya untuk membantu menyeberang tersebut.
Remaja yang saat ditemui Tribun Jakarta mengenakan kaos The Jakmania ini mengatakan, kehadiran PKL justru mempermudah dirinya dalam membeli barang. "Enak, mudah didapat dan banyak variasi dengan harga miring. Jadi bisa sekalian jalan dan belanja. Paling menarik perhatian tentu saja harganya yang murah," kata Wawan.
Wawan tidak sendiri, Arif pengguna JPO lain juga mengatakan dirinya beberapa kali berbelanja. "Murah, jadi enak belanja di sini. Tapi emang sih agak mengganggu jalan," ujar Arif.
Meskipun begitu, tidak semua pengguna JPO berpendapat demikian, Putri misalnya mengaku terganggu dengan keberadaan deretan pedagang di JPO. Ia juga sama sekali tidak diuntungkan dengan keberadaan mereka.
"Sangat mengganggu. Jadinya yang mau lewat susah, terhalang pedagang. Kalo bisa jangan di tempat itu (JPO-red) jualannya, tidak ada sisi positif jualan di JPO," sebut gadis berambut panjang tersebut.
Sisi kontradiktif tersebut menjadi gambaran sosial yang sebenarnya. Di satu sisi, banyak orang merasa keberadaan para pedagang tersebut menguntungkan, karena beberapa barang yang tidak ada, bisa ditemui dengan harga miring.
Namun bagi yang memerlukan kenyamanan dan kecepatan, tentu saja para PKL tersebut bak benalu yang terus mengganggu. Di sisi ini, mereka berharap pemerintah bisa bertindak tegas untuk menertibkan para PKL, dan mengembalikan fungsi JPO sebagaimana mestinya, terutama demi keamanan


sumber : http://jakarta.tribunnews.com/2012/03/26/mereka-dicaci-tapi-dicari
Program Penjualan Sederhana  :
> Download Program Penjualan Sederhana

Tidak ada komentar: