regentrenaldo
VisitingCardBlogger

Saya Segera Kembali

Mohon maaf Blog Regent Renaldo sedang dalam perawatan. Untuk program penjualan sederhana dengan Microsoft Excel silakan kunjungi: www.NotaRG.com > The Blog of Property: MandiriSemesta.com

Memahami Merapi, Mewaspadai Bencana

Artikel tanggal : 02/03/2012
Shelter korban letusan Merapi di Dusun Plosokerep, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY, Sabtu (24/12/2011).

Oleh Ahmad Arif/Agung Setyahadi
Langit mendung mulai mengirim gerimis. Puluhan orang bertahan di bekas Kampung Kinahrejo di lereng selatan Merapi. Mereka menyusuri jalan tertutup pasir dan bebatuan sisa awan panas dari letusan Gunung Merapi pada 2010. Di ujung jalan aspal yang mengelupas, mereka menggelar peta Kawasan Rawan Bencana Merapi.
Sri Sumarti, Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, menerangkan makna peta itu, sementara puluhan orang yang terdiri atas guru-guru sekolah dasar itu menyimak dengan antusias. Sri memimpin langsung kuliah lapangan Wajib Latih Bencana untuk guru-guru yang mengajar di Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3 Merapi.
"Yang diberi warna merah artinya daerah berbahaya, tidak boleh untuk tempat tinggal," kata Sri, melalui pengeras suara.
"Lah, sekolah kami ada di kawasan merah itu, Bu," kata Surono, guru SDN 1 Balerante, Klaten. "Pantas saja sekolah kami tidak mendapat dana renovasi walau rusak setelah letusan Merapi." Surono lalu meminta peta KRB agar dia bisa menjelaskan kepada warga lain di Balerante tentang status desa mereka yang berada di zona bahaya. "Peta ini disediakan gratis untuk warga, silakan diambil di kantor BPPTK," kata Sri.
Sri lalu melanjutkan "kuliah" lapangan dengan menunjukkan kepada guru-guru tentang kedahsyatan letusan Merapi 2010. Ia mengontraskan dengan kenyataan saat Merapi meletus pada 26 Oktober 2010 dan sehari setelah gunung itu berstatus Awas, sebagian sekolah di zona bahaya masih mengadakan kegiatan belajar-mengajar. "Hayo, kenapa ada yang belum mengungsi. Boleh enggak sebenarnya?" Sri bertanya.
"Enggak boleh, Bu," jawab Nur Muhammad, guru Madrasah Ibtidaiyah Ngablak 1, Srumbung, Magelang, sambil tersenyum. "Tapi, kami dulu belum pelatihan, jadi tidak tahu." Jawaban Nur diikuti dengan teriakan "huu... huu..." dari guru-guru lain.
Sri menjelaskan, status Awas untuk gunung api berarti kondisi gunung itu sudah hampir meletus. Warga di zona bahaya harus segera mengungsi.
Tetap sekolah
Nur mengisahkan, sore itu, 26 Oktober 2010, abu tebal turun dan suara gemuruh terdengar beberapa kali. Namun, warga tetap bertahan karena tidak ada informasi kapan harus mengungsi. Ingatan mereka juga tidak merekam bencana yang pernah melanda dusun yang berjarak sekitar 9 kilometer dari puncak di lereng barat Gunung Merapi. Padahal, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah merekomendasikan daerah dalam radius 10 kilometer dari puncak Merapi harus dikosongkan.
Baru ketika hujan abu menebal seiring gelegar keras dari puncak Merapi, warga Ngablak panik dan berhamburan meninggalkan dusun. Saat itu Merapi telah meletus. Letusan itu meluluhlantakkan Dusun Kinahrejo dan menewaskan puluhan warga di lereng selatan Merapi. Beruntung bagi warga Ngablak, letusan Merapi tidak mengarah ke selatan.
Warga Ngablak meninggalkan dusun tanpa tujuan, tidak tahu harus mengungsi ke mana karena tidak ada informasi barak pengungsian yang harus dituju. "Akhirnya kami berhenti di SD Srumbung dan menginap di sana semalam," ujar Nur.
Ketidaktahuan warga Ngablak berlanjut hingga esok hari. Pada 27 Oktober 2010, mereka kembali ke Ngablak. Madrasah Ibtidaiyah Ngablak 1 dan SD Ngablak 2, sekitar 8 km dari puncak Merapi, kembali melakukan aktivitas belajar-mengajar.
Baru pada pukul 10.00, Kepala Dusun Ngablak Sutopo meminta warga mengungsi setelah mendapat informasi dari Pemerintah Kabupaten Magelang. Warga mengungsi ke Bulog Magelang selama 15 hari, kemudian ke Jumoyo selama sebulan.
Pendidikan bencana
Sebagai gunung api teraktif di Nusantara, Merapi juga gunung terpadat penduduknya.
Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Sutikno mengatakan, warga Merapi memiliki hubungan sangat kuat dengan Tanah Air-nya. "Mereka memiliki prinsip sadumuk bathuk sanyari Bumi, yaitu akan tetap mempertahankan tempat tinggalnya walau kondisi apa pun," kata Sutikno.
Sebagian warga Merapi, kata Sutikno, memiliki keyakinan bahwa gunung itu teman leluhur sejak dulu. "Warga percaya Merapi tidak akan menyengsarakan," katanya.
Selain itu, Merapi memiliki sumber daya alam berlimpah yang selama ratusan tahun menopang hidup warga. Hal itu, menurut Sutikno, membuat upaya relokasi warga di zona bahaya selalu gagal.


sumber : http://regional.kompas.com/read/2012/03/02/09170624/Memahami.Merapi.Mewaspadai.Bencana
Program Penjualan Sederhana  :
> Download Program Penjualan Sederhana

Tidak ada komentar: