regentrenaldo
VisitingCardBlogger

Saya Segera Kembali

Mohon maaf Blog Regent Renaldo sedang dalam perawatan. Untuk program penjualan sederhana dengan Microsoft Excel silakan kunjungi: www.NotaRG.com > The Blog of Property: MandiriSemesta.com

Laut Mati Tidak Memberi Nasi...

Artikel tanggal : 17/01/2012
Ratusan nelayan di sentra perikanan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terpaksa sementara berhenti melaut karena cuaca buruk selama dua bulan terakhir. Untuk mengisi waktu, para nelayan merapikan jala atau membantu rekan senasib membongkar hasil tangkapan yang tak seberapa. Foto diambil pada Kamis (12/1).

Oleh HENDRIYO WIDI dan Rini Kustiasih

Genap sudah seminggu laut mati. Laut di mana-mana tak membuka pintu. Laut tak memberikan penghidupan bagi para nelayan di pesisir Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dan para nelayan Desa Gebang Mekar, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Angin kencang dan gelombang tinggi di Laut Jawa membuat para pencari ikan menambatkan kapal sembari mengencangkan ikat pinggang. ”Tidak melaut, ya, artinya tidak dapat ikan. Tidak dapat ikan, ya, berarti tidak bisa beli nasi,” kata Suparti (36), istri nelayan Desa Kedungmalang, Jepara, saat mengasuh kedua anaknya di depan gubuknya yang sederhana, Kamis (12/1/2012).

Suparti mengaku persediaan beras untuk keluarga tinggal untuk tiga hari ke depan. Apabila cuaca laut Jepara masih buruk, dia dan keluarga tidak akan mampu membeli beras. Untuk itu, dia terpaksa mengirit beras. Biasanya sehari memasak dua gelas beras, sekarang satu gelas beras.

Apalagi sekarang harga beras mahal. Yang termurah mencapai Rp 6.500 per kilogram (kg), sedangkan yang termahal bisa Rp 8.000 per kg. ”Setiap dua hari sekali suami saya pasti pulang membawa ikan. Pendapatan dari hasil penjualan ikan itu cukup lumayan. Jika mendapat tangkapan banyak bisa mencapai Rp 250.000, tetapi kalau sepi hanya Rp 100.000,” kata Suparti.

Menurut Suparti, sudah tiga hari Yasikun (41), suaminya, terpaksa mencari pekerjaan pengganti. Karena ada tetangga desa sedang membangun rumah, Yasikun pun bekerja di sana sebagai buruh. Hal serupa dialami Yatno (45), nelayan Desa Ujungbatu, Kecamatan Jepara. Dia sudah sepekan tidak melaut karena ancaman angin dan gelombang besar. Bapak tiga anak itu tak berdaya dan mengisi waktu dengan memperbaiki jala. ”Saat cuaca baik, dalam seminggu saya melaut enam kali dengan pendapatan kotor rata-rata Rp 300.000 per hari. Kalau cuaca buruk sama sekali tidak melaut,” katanya.

Istri Yatno, Mintarni (36), terpaksa berutang ke warung. Di warung tinggal ngebon dan dibayar ketika ada uang dari hasil penjualan ikan. ”Kapok meminjam ke lintah darat karena bunganya besar. Misalnya kalau pinjam Rp 100.000 dapatnya Rp 90.000 yang nilainya sama dengan Rp 100.000 dan harus mengangsur Rp 10.000 sebanyak 12 kali,” tutur Yatno.

Setiap tahun, dua kali nelayan di Laut Jawa, terutama di perairan Jepara dan Karimunjawa, mengalami masa paceklik. Hal itu terjadi akibat angin musim barat pada Januari-Februari dan angin musim timur pada Juli-Agustus.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah (Jateng) memperkirakan angin musim barat bakal berlangsung hingga akhir Februari. Saat ini, kecepatan angin di perairan Jepara dan Karimunjawa 11-15 knot, sementara tinggi gelombang di atas 2 meter.

Prediksi BMKG Jatiwangi, Jawa Barat (Jabar), yang membawahkan wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan, cocok dengan prediksi di Jateng. BMKG Jatiwangi memperkirakan, cuaca buruk angin kencang dengan kecepatan 5-20 knot dan hujan deras dengan debit 400 milimeter per detik yang melanda wilayah itu masih akan terjadi sampai Februari. ”Kalau memaksa melaut, wah, perahunya bisa begini, nih…,” ujar Darwita (45), nelayan asal Desa Gebang Mekar, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jabar, sembari menirukan gerakan kapal yang oleng ke kanan dan ke kiri dengan tangannya.

Bapak empat anak itu merinding saat membayangkan gelombang setinggi 3 meter menerjang perahunya yang berukuran 9 meter x 3 meter. Ia teringat peristiwa setahun lalu yang hampir merenggut nyawanya. Pada bulan yang sama setahun lalu, seorang rekan Darwita tewas saat perahu mereka terbalik digulung gelombang besar.

”Saya takut kejadian seperti itu terjadi lagi, jadi lebih baik saya tidak melaut,” ujarnya saat ditemui di Tempat Pelelangan Ikan Gebang, Kamis.

Bayangan seram terombang-ambing di lautan selama hampir 12 jam seperti yang dialami setahun lalu membuat Darwita berpikir dua kali untuk melaut dalam kondisi cuaca buruk seperti sekarang.

Dengan kondisi ini, nelayan kecil seperti Darwita tidak bisa memaksakan diri melaut. Risikonya, keluarga mereka mesti ”berpuasa” dan berutang sana-sini. ”Dalam kondisi ini, melaut juga percuma. Hasil tangkapan pun sedikit. Kami enggak berani lama-lama melaut,” kata Darwita yang menjadi nelayan sejak berusia belasan tahun.

Saat cuaca normal, Darwita bisa mendapat ikan dan rajungan sampai 5 kg per hari. Namun, dengan kondisi cuaca buruk, maksimal ia menangkap 2-3 kg rajungan per hari. Tak jarang ia hanya bisa menangkap 1 kg rajungan per hari. ”Bisa dapat 1 kg itu sudah untung. Jika dijual ke bakul, harganya Rp 30.000,” katanya.

Ada ratusan nelayan di Gebang yang senasib dengan Darwita. Darbin (40), nelayan lain, Kamis lalu, memaksakan diri melaut. Ia membawa pulang seember penuh rangah atau keong laut berduri. Bapak dua anak itu merugi karena rangah tak laku dijual.

Padahal, untuk melaut, ia memerlukan 10 liter solar. Dengan harga solar per liter Rp 5.000, Darbin mengeluarkan uang Rp 50.000 untuk biaya bahan bakar saja. Adapun hasil tangkapan hari itu maksimal 1 kg rajungan dengan harga Rp 30.000.

Di Pelabuhan Perikanan Nusantara Kejawanan, Cirebon, sekelompok pemilik kapal ikan besar berbobot mati di atas 30 ton berkumpul di tepi dermaga pelabuhan. Kapal-kapal mereka bersandar dan anak buah kapal hanya duduk-duduk di dek kapal.

Suasana lesu terasa di sejumlah perkampungan nelayan. Perahu-perahu nelayan disandarkan di tempat aman, sementara para nelayan duduk-duduk merapikan jala di rumah atau menjadi buruh serabutan.

Andai saja di desa nelayan di pelosok Nusantara ini ada banyak industri hilir komoditas laut, niscaya nelayan tetap bisa bekerja dan produktif. Dan, tidak kelaparan....

sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/01/17/0816133/Laut.Mati.Tidak.Memberi.Nasi.
Sponsor :
> Download Program Penjualan Sederhana
Belanja Hemat : 
- Obral Buku Murah
- LED AOC new Only 650rb 
- Belanja Hemat Asesoris Komputer & Elektronik


Tidak ada komentar: