regentrenaldo
VisitingCardBlogger

Saya Segera Kembali

Mohon maaf Blog Regent Renaldo sedang dalam perawatan. Untuk program penjualan sederhana dengan Microsoft Excel silakan kunjungi: www.NotaRG.com > The Blog of Property: MandiriSemesta.com

Denda Tilang yang Memalukan

Opini Tanggal : 28/09/2011
Ilustrasi
Urusan parkir yang sepertinya remeh ini betul-betul membuat malu bangsa kita. Bayangkan, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jajaran diplomat penunggak denda tilang terbesar akibat salah parkir New York City, Amerika Serikat. Tak tanggung-tanggung, akumulasi tunggakan itu mencapai US$ 750 ribu dolar Amerika atau setara dengan Rp 6,8 miliar.

Ihwal tunggakan ini terungkap saat Departemen Keuangan Amerika mengumumkan daftar negara dengan tunggakan denda parkir terbesar. Kita masuk tiga besar, di bawah Mesir (US$ 1,9 juta) dan Nigeria (US$ 1 juta). Inilah akumulasi denda tilang bertahun-tahun yang tak pernah dibayar, setelah polisi New York mendenda mobil-mobil para wakil bangsa itu gara-gara parkir di tempat terlarang, atau melebihi batas waktu yang dibolehkan.

Hal memalukan dari kasus ini adalah ketidaktaatan para diplomat pada aturan lalu lintas di negeri orang. Kebiasaan tak disiplin berlalu lintas di negeri sendiri ikut dibawa-bawa ke negeri orang. Mereka lupa, New York bukan Tanah Abang, tempat pengendara mobil bisa parkir seenaknya sehingga lalu lintas macet.

Lebih memalukan lagi denda tilang tak kunjung dibayar. Menurut Wakil Menteri Luar Negeri, jumlah tunggakan sebesar itu adalah akumulasi denda tilang bertahun-tahun. Pertanyaannya, bagaimana bisa denda sekian lama tak segera dibayar. Lagi-lagi ini menunjukkan betapa para diplomat kita meremehkan hukum di negeri orang.

Rencana melobi pemerintah New York agar diberi keringanan--seperti dikatakan Wakil Menteri Luar Negeri Triyono Wibowo--juga tak masuk akal. Sudahlah, bayar saja denda itu, daripada sudah melanggar hukum, masih meminta keringanan pula.

Membayar tunggakan adalah kewajiban pemerintah Indonesia. Ini bukan sekadar soal uang, tapi rasa malu diumumkan sebagai bangsa dengan diplomat yang tak tahu hukum. Kementerian Luar Negeri harus memastikan bahwa soal begini tak terjadi lagi. Apalagi biaya denda yang sangat besar itu membebani keuangan negara yang lebih dibutuhkan di tempat lain.

Penjelasan Triyono bahwa denda tilang terjadi akibat fasilitas parkir tak memadai bukanlah alasan yang tepat. Memang, jumlah diplomat kita di Perwakilan Tetap Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Konsulat Jenderal RI di New York mencapai 35 orang dengan jatah slot parkir yang sangat minim. Tapi perwakilan negara lain juga mengalami hal yang sama. Toh, mereka bisa mengatasinya, atau segera membayar denda jika ditilang.

Agar kejadian serupa tak terulang, cara terbaik adalah Kementerian Luar Negeri membatasi penggunaan mobil bagi para diplomatnya. New York merupakan kota besar dengan jaringan transportasi massal yang sangat memadai. Tak perlulah para diplomat itu semuanya menggunakan mobil. Penggunaan mobil cukup hanya untuk jajaran tertinggi. Untuk kegiatan sehari-hari, jajaran diplomat lain cukup dengan menggunakan angkutan umum yang tersedia.

Dengan cara seperti itu, penghematan biaya pembelian mobil, operasional, dan perawatan bisa dipangkas. Alihkan dana yang tersedia untuk menyewa mobil jika diperlukan, atau menambah tunjangan transportasi lokal bagi para diplomat.

Patut dicatat, menggunakan angkutan umum tidak akan mengurangi kewibawaan diplomat. Justru ini bisa memberikan citra baik. Di dalam negeri, rakyat Indonesia jadi tahu bahwa pejabat mereka mau "berkorban" demi keuangan negara yang cekak. Di luar, kita tak akan dipermalukan lagi oleh tunggakan dan tilang parkir.

sumber : http://www.tempo.co/hg/opiniKT/2011/09/29/krn.20110929.249582.id.html
Sponsor :
> Download Program Penjualan Sederhana

Tidak ada komentar: